Karakteristik Gerakan Muhammadiyah
Oleh. Suprapto (Sekretaris MPK Bojonegoro)
Muhammadiyah mempunyai 3 (tiga) karakteristik dalam melakukan aktifitas getakannya, tiga bentuk gerakan tersebut adalah:
1. Harokah Da'wah
2. Harokah Islam
3. Harokah Tajdid
-------------
Harokah Da'wah
Muhammadiyah adalah menjalankan misi dakwah, dakwah amar makruf nahi munkar, sehingga dalam semua aktifitasnya adalah aktifitas dakwah, berdirinya amal usaha yang ada harus membawa misi dakwah, semua pelaku amal usaha harus mencerminkan misi dakwah, baik secara perkataan maupun contoh teladan perbuatan.
Harokah Islam
Meski bergerak luas di bidang amal sosial, kesehatan dan pendidikan, identitas Muhammadiyah adalah pergerakan Islam atau harakah al Islamiyah.
KHA Dahlan dan para generasi as sabiqunal Awalun berdirinya Muhammadiyah (1912) di karisidenan Yogyakarta telah meletakkan pondasi hal ihwal penyebarluasan agama Islam dan memajukan ajaran Islam, dan setelah 1914 untuk seluruh wilayah di Hindia Timur.
Harokah Tajdid
Pada awal berdirinya Muhammadiyah sebenarnya sudah membawa jargon tajdid tetapi masih bersifat umum yaitu dengan adanya sebuah maksud dan tujuan berdirinya Muhammadiyah " terciptanya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya ". Tetapi secara tekstual dokumen tajdid baru ditemukan pada tahun 1989 pada masa Muh. Bashir sebagai ketua tarjih pusat.
Sedangkan Kontek tajdid Muhammadiyah ada 2 (dua) :
1. Purifikasi
Pemurnian berarti proses atau tindakan memurnikan sesuatu dari yang mengotorinya supaya menjadi bersih. Tajdīd sendiri dalam bahasa Arab secara etimologi yaitu menjadikan sesuatu menjadi baru, atau memperbaharui sesuatu.
Baca Juga : Jalan Sunyi Muhammadiyah, Haruskah Tetap Adanya?
Dalam hal urusan aqidah ibadah kontek tajdid Muhammadiyah adalah purifikasi. yaiti upaya untuk memurnikan akidah dan ibadah dari unsur luar Islam seperti kepercayaan dan ritual masyarakat lokal atau agama terdahulu. Bentuk purifikasi cenderung untuk menghilangkan atau mengkritisi bagian dari akidah dan ibadah yang dinilai tidak memiliki dasar dalam al-Quran dan al-Sunnah.
2. Dinamisasi
Di luar aqidah dan ibadah, lapangan kehidupan manusia jauh lebih luas. Islam memberikan peluang yang sangat terbuka bagi ijtihad agar kehidupan manusia menjadi dinamis. Dengan tidak bersikap eksklusif umat Islam ditantang untuk membangun kehidupan sesuai dengan tugasnya sebagai khalifah fi al-ardl. Dinamika sangat diperlukan untuk mencapai ihsan.
Rasulullah SAW pernah menyampaikan:
ان الله كتب الاحسان على كل شيىء
Sesungguhnya Allah telah mewajibkan utk berbuat ihsan kepada segala sesuatu.
Menurut Prof Syafiq Mughni, ihsan adalah berbuat sesuatu sebaik mungkin, dengan cara yang terbaik dan memberikan manfaat yang optimal. Tuntutan ber-ihsan akan menjadikan kehidupan manusia dinamis untuk menuju kesempurnaan hidup.
Dinamisasi harus juga diarahkan untuk mewujudkan realitas bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam (rahmatan li al-alamin).
----------------
Jagong sarapan pagi pasca kajian ketarjihan
Perg. Muhammadiyah Balen, 15 Mei 2022







