AMM di Era Digital
Oleh. M. Yazid Mar'i (Ketua MPK PDM Bojonegoro)
Kehadiran Muhammadiyah sebagai organisasi Islam modern di Indonesia, sejak kelahirannya dan insyaAllah hingga hari ini tetap berkomitmen dan meyakinkan diri sebagai gerakan dakwah Islam amar makruf nahi munkar dalam menegakkan dan menjunjung tinggi Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.Dan senantiasa melakukannya inovasi gerakan sebagai konsekwensi gerakan tajdid.
Luasnya bidang dakwah Muhammadiyah (pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial dan ekonomi) jangan sampai membuat gerakannya cenderung ekslusif, dan membatasi diri. Tetapi justru harus terus bekerja keras untuk mengepakkan sayap dakwahnya di semua lini kehidupan dan untuk semua (Rahmatan lil 'alamin).
Muhammadiyah harus memenangkan narasi dan aksi gerakan inklusifnya di hadapan komunitas-komunitas dan masyarakat baik di tingkat lokal, nasional maupun global.
Para pimpinan dan warga persyarikatan teruna AMM (Angkatan Muda Muhammadiyah) mesti harus membiasakan diri berpikir makro, yang gerakannya berefek global dalam isu-isu keIslaman, keIndonesiaan dan kemanusiaan, meskipun gerakannya di area lokal (ranting, cabang, daerah, wilayah) melalui gerakan-gerakan kreatif dan inovatif, guna mendorong percepatan pencapaian tujuan Muhammadiyah dengan segenap tantangan dan peluang yang ada.
Demikian halnya terhadap derasnya arus gelombang kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi sekarang ini, perebutan narasi di media digital menjadi sangat kompetitif dan tak terelakkan. Informasi apa pun dapat diakses dengan mudah, cepat, di mana saja, kapan saja dan oleh siapa saja. Akses informasi secara mandiri oleh masyarakat bagaikan menu hidangan yang siap dipilih dan dikonsumsi sesuai selera masing-masing masyarakat. Kemajuan teknologi informasi bagaikan sebilah pisau yang bisa mendatangkan dampak positif maupun negatif bagi masyarakat global. Bahkan tak jarang sesuatu yang salah dapat dibenarkan dan sebaliknya sesuatu yang benar menjadi salah, akibat mampu menguasai dunia maya dengan konten-konten yang dimiliki.
Memperhatikan fenomena digital ini, konsekwrnsi logis yang harus dilakukan oleh Muhammadiyah adalah mampu menjadi Produsen Dakwah Digital.
Namun demikian realitas yang ada, Muhammadiyah yang telah memproklamirkan diri sebagai organisasi Islam berkemajuan masih belum mampu mewarnai panggung dunia maya ini.
Maka mau dan tidak mau, suka dan tidak suka saatnya Muhammadiyah hadir dalam ruang-ruang dunia maya untuk memberikan pencerahan dan memenangkan narasi kebenaran dan kebaikan bagi masyarakat digital sekarang ini, sekaligus sebagai penyeimbang konten-konten yang cendrung provokatif bahkan profit belaka "buzer'.
Disinilah generasi muda Muhammadiyah sebagai kader dan aktivis Muhammadiyah harus menjadi mujahid terdepan da'wah digital mengawal menjadi arus perubahan untuk tetap dalam rel kenabian.
Bagi sebagian kecil pendakwah, terutama AMM (kader-kader Muda Muhammadiyah), yang hari ini telah melakukan da'wah melalui website dengan konten-konten yang dimiliki tentu perlu mendapatkan apresiasi, meski tidak membawa nama Muhammadiyah. Karena Pemikiran kritis dan cerdas yang dituangkan dalam rangkaian narasi tulisan, cukup efektif dan strategis dalam mewarnai ruang publik berbasis digital, menebar nilai-nilai Islam, keIndonesiaan dan kemanusiaan global yang ramah dan mencerahkan.
Akan tetapi kedepan akan semakin efektif dan memiliki daya kecepatan, tentu menggorganisir Dakwah Digital yang telah dilakukan aktifis AMM kedalam satu barisan adalah kebutuhan yang mendesak dan dapat segera terealisasi secara sistematis. Ridallah.







